Sebagai pengguna ubuntu, sekali lagi saya tegaskan bahwa saya hanyalah pengguna ubuntu yang masih pemula bukan pengembang yang ikut berpartisipasi membangun Ubuntu, karena kemampuan saya yang hanya bisa menggunakan, tentu sangat menunggu dirilisnya versi final Lucid Lynx yang katanya pada bulan April bisa disedot beramai-ramai. Kontribusi yang saya berikan selama ini paling paling hanyalah melaporkan ke pihak berwenang jika menjumpai bug, jagoan jagoan dari negeri antah berantah yang akan membantai bug tersebut.

Lucid Lynx adalah salah satu versi LTS (long time support) dari Ubuntu, maksudnya kalau saya tidak salah dengar versi tersebut akan dikembangkan sampai beberapa tahun ke depan. Versi LTS tentu sangat ditunggu oleh banyak penggunanya termasuk saya.

Sampai beberapa waktu yang lalu saya masih heran mengapa orang-orang open source mau menggratiskan karyanya. Dalam hati saya bertanya-tanya sampai makan terasa nggak enak, tidur terasa nggak nyenyak. Lebay… deh…. Sampai akhirnya pertanyaan yang berkecamuk di dalam hati terjawab pada saat ikut seminar yang diadakan oleh panitia amprokan blogger Bekasi. Mas Romi menjelaskan bahwa orang akan berfikir “hasil karya yang begitu bagus saja digratiskan apalagi jika dibayar pasti bisa membuat karya yang lebih dasyat”. Meskipun hal tersebut tidak selalu benar, belum tentu kalau dibayar maka menghasilkan karya yang lebih bagus tapi sudah cukup membuat makan saya terasa enak dan tidur terasa nyenyak dengan penjelasan tersebut. Oleh karena itu ada kode etik yaitu, meskipun sebuah karya bisa dikembangkan, dikopi, dan didistribusikan dengan bebas akan tetapi dilarang menghilangkan kredit author(bener nggak istilah ini?) dari sebuah karya tersebut.

Sambil menunggu dirilisnya final version Lucid Lynx saya berbisik lirih Bekasi bersih partisipasi blogger.