Dulu saat saya pacaran adalah merupakan hal yang tabu jika kentut sampai terdengar oleh mantan pacar saya. Begitupun mantan saya akan sangat malu jika pada saat berduaan tiba-tiba terdengar kentut. Pada saat berduaan dan tiba-tiba kepengen kentut karena ditahan sampai akhirnya tidak tahan lagi, justru terdengar sangat nyaring sekali. Sudah perut sakit ditambah malu lagi. Memang kita menyadari bahwa kentut siapapun pasti akan bau tidak terkecuali tamara bleszynski.

Tapi sekarang kami berdua setelah nikah tanpa sungkan-sungkan jika kentut justru dibesar-besarkan, “daripada sakit perut,” katanya. Tapi hal tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa kami telah akrab. Tidak ada rasa sungkan lagi, lebih terbuka satu sama lain dan komunikasi menjadi lancar dan tidak grothal-grathul. Banyak permalasahan besar timbul hanya karena kurang lancarnya komunikasi.

Hal tersebut mungkin merupakan salah satu analogi yang agak pas bagi pemerintah dan rakyat. Saat pemerintah tidak jujur kepada rakyat komunikasi akan berjalan tidak lancar. Hal tersebut tentunya akan menimbulkan hal-hal yang kurang baik di kemudian hari. Wahai pemerintah kentutlah sekeras-kerasnya di depanku.

Inspirasi tulisan ini berasal dari kentut istri saya barusan (kalau kentut jangan keras-keras dong!) dan dari tulisan yang pernah saya baca tapi lupa entah dimana bacanya.